RAPBN TERAKHIR ERA ORDE BARU YANG
TIDAK REALISTIS
Sebelum membahas lebih lanjut, kita
sedikit membahas apa itu RAPBN. Ini penting buat teman-teman yang belum tahu
agar memahami artikel ini. Oke, RAPBN adalah Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja. Jadi Indonesia di awal tahun sudah membuat rancangan anggaran, mulai berapa
pendapatan yang akan diterima, dari mana saja pendapatannya hingga berapa uang
yang akan dibelanjakan di tahun tersebut. Sudah paham garis besarnya, ya? Oke,
kita lanjut dulu.
Memasuki tahun
1998, Presiden Soeharto mengantarkan nota keuangan dan laporan
Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja
(RAPBN) 1998/1999 di depan sidang pleno anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 6 Januari 1998.
Dalam RAPBN itu, besar anggaran
mencapai Rp 133,5 triliun. Tentunya, secara absolut
ini mengalami kenaikan sebesar 32,1% dibandingkan dengan tahun lalu yang berjumlah
Rp 101 triliun, tetapi secara riel menurun karena depresiasi rupiah. Pada RAPBN ini juga memproyeksikan pertumbuluhan adalah
4%, inflasi setahun 9%, dan nilai tukar dolar dipatok Rp 4.000,00 per dolar. Untuk pengeluaran rutin, subsidi bahan bakar minyak (BBM) diberikan sebesar Rp 10,1 triliun.
BACA JUGA : KRONOLOGI KRISIS MONETER TAHUN 1997 (BAG 1)
Melihat
anggaran yang dicanangkan
pernerintah ini, Soeharto benar-benar
membuat blunder. IMF sangat kecewa karena memandang
RAPBN itu tidak realistis. Apalagi, dolar dipatok dengan asumsi Rp 4.000,00 per dolar. Terlebih,
masih ada subsidi bahan bakar
minyak mencapai Rp 10,1 triliun. Isu yang merebak dari surat kabar Amerika Serikat, The Washington Post (7 Januari 1998), menganggap bahwa pemerintah Indonesia tidak serius melakukan reformasi ekonomi. Mungkin, hal ini akan menyebabkan IMF
menghentikan pencairan bantuan dana tahap kedua sebesar USD 3 miliar yang rencananya diberikan pada pertengahan
Maret 1998. Dalam majalah Business
Week pun disinggung tentang RAPBN ini: sangat optimistik sekaligus tidak
realistik. Konsekuensinya, dampak
RAPBN ini makin menjatuhkan
rupiah; rakayt memborong sembako; rumor tentang kelaparan
dan kerusuhan mulai
merayap ke rakyat; dunia internasional terperangah, dan IMF mulai kehilangan
kesabaran.
BACA JUGA : KRONOLOGI KRISIS MONETER TAHUN 1997 (BAG 2)
Maka, Presiden
Amerika Serikat Bill Clinton mengutus
Menkeu AS Lawrence
Summers ke Indonesia. Summers datang
ke Cendana pada 13 Januari 1998. Sebelum
kehadiran Summers, hadir pula
Wakil Direktur
Pelaksana IMF, Stanley
Fischer, di Cendana. Namun, bertolak-belakang dengan harapan Summers, Soeharto malah memberi kuliah tentang "Indonesia 101" yang berisi suksesnya ia membawa Indonesia dari
negara miskin menjadi sebuah pusat manufacturing. Soeharto justru tak mau berbicara tentang masalah yang dihadapinya.
Summers kecewa sekali. Akhirnya, IMF mengubah strategi dengan memaksa Soeharto menyetujui sebagian besar dari butir-butir
persetujuan serta
memberlakukan tenggat waktu.
Hal ini
direalisasikan selanjutnya dengan bos IMF, Michel Camdessus. Soeharto
harus mematuhi dan
menandatangani letter of intent (memorandum pernyataan niat) yang berisi 50
butir pernyataan penting, terutama merevisi RAPBN 1998/99. Inilah yang mengganjal IMF selama ini, sebagaimana diungkapkan oleh Camdessus.
Dana pinjaman tahap awal sebesar
USD 3 miliar diberikan pada
Nopember 1997. IMF belum melihat sejauh mana usaha pemerintah menggunakan dana
tersebut.
 |
Presiden Soeharto tidak berdaya di depan Bos IMF. Presiden Soeharto, mau tidak mau, harus menandatangani perjanjian ini agar bantuan IMF bisa dikucurkan pada 1998. |
Melihat gejala yang semakin memburuk ini, selain Bill Clinton,
sederet pimpinan negara
sahabat berusaha memberi pengertian
lewat telepon pada
Soeharto, seperti
Kanselir Jerman Helmut Kohl, Perdana Menteri Jepang Ryutaro Hashimoto, dan Perdana Menteri
Australia John Howard. Sementara itu, Perdana Menteri
Singapura Goh Chok Tong
dan Perdana Menteri Malaysla Mahathir Mohammad
menyempatkan diri datang menemui Presiden Soeharto.
Memang, setelah dicanangkannya RAPBN 1998/99, ditambah isu dan tekanan dari luar negeri, perekonomian pun semakin runtuh. Rupiah terus anjlok ke angka Rp 8.600 per dolar. Dan memasuki
pertengahan bulan Januari 1998,
sudah memasuki batas tragis: anjlok mencapai
Rp 11.000 per dolar. Kondisi ini semakin
membuat masyarakat
percaya bahwa rupiah sudah benar-benar mencapai
titik terendah sepanjang sejarah Orde Baru.
Sejak diumumkannya RAPBN ini, misalnya, di bursa saham di
Jakarta, terjadi aksi jual di kalangan para
investor, sehingga harga saham turun sebesar 2,08%. Padahal, menurut keterangan Jasso Winarno dari
Sigan Research Institute, mereka menikmati kenaikan indeks yang cukup membesarkan hati sejak 17 Desember 1997, yakni
sebesar 41,61 titik atau
11,28%. Reaksi negatif
di pasar saham ini timbul
karena cemas terhadap
RAPBN 1998/99 sebesar Rp 133,5 triliun yang
tak akan mampu mengentaskan
ekonomi Indonesia dari kemelut
moneter.
Masalah RAPBN 98/99 ini sempat disorot secara tajam oleh pengamat ekonomi dan politik Faisal Basri. Kenaikan anggaran yang mencapai 32%, menurut Faisal, sangat tidak realistis di tengah krisis yang terjadi. Semua pos anggaran naik. Namun, ironisnya,
anggaran bidang hukum dan pengawasan justru mengalami penurunan. Dua persoalan yang sungguhnya sangat penting malah
menjadi tidak penting dalam RAPBN ini. Dalam pos penerimaan, beban yang
harus disetor rakyat melalui pajak pertambahan nilai (PPN) naik
hingga 13 persen. Artinya,
rakyat harus membayar pajak yang sama dengan Liem Sioe Liong. Sementara itu, pajak untuk orang-orang kaya melalui pajak penghasilan (PPh) diturunkan.
Konyolnya, menurut Faisal, pos pengeluaran belanja barang dalam negeri mengalami kenaikan hingga 18 persen. lni sama
sekali tidak mencerminkan penghematan. Jangan-jangan, kenaikan itu digunakan untuk membeli mobil Timor. Ia pun menyinggung soal rencana pemerintah yang akan
melakukan reformasi ekonomi dan restrukturisasi sejak dulu serta
juga apa yang diucapkan Pak Harto dalam RAPBN. Tetapi, semuanya itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Permasalahan yang terjadi tahun 1997 ini menurut pandangan Prof. Sumitro Djajahadikusumo pada
pers, bukan lagi menyangkut moneter, bukan pula berkaitan dengan ekonomi masyarakat
semata-mata, melainkan sudah berkaitan
dengan krisis kepercayaan
yang menghinggapi seluruh kehidupan masyarakat. Untuk itu, penanggulangan krisis kepercayaan serupa ini sudah menyangkut
good governance yang mutlak harus mencakup
transparansi, kepastian hukum, dan sosial kontrol yang efektif.
(BERSAMBUNG)
Dapatkan berbagai buku bekas
berkualitas di www.mocobuku.store mulai dari komik, novel, buku sastra, sejarah
buku politik dan masih banyak lagi.
BACA SELANJUTNYA : KRONOLOGI KRISIS MONETER TAHUN 1997 (BAG 4)
No comments: