JULES VERNE PENULIS GENRE SCIENCE FICTION PERTAMA DI DUNIA
Jules Verne sering disebut sebagai Bapak Science Fiction. Namun, Jules Verne sendiri bukan hanya seorang penulis fiksi, tapi ia juga seorang penyair dan dramawan. Karya-karya besarnya yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di antaranya adalah Journey To The Center of The Earth, Twenty Thousand Leagues Under the Sea, Around The World ln Eighty Days, dan From The Earth to The Moon.
Sejak kecil, lingkungan Jules
sangat mewarnai
plkirannya sehingga penuh dengan
ide-ide petualangan.
Rumahnya dulu terletak di sebuah pulau buatan di tengah
sungai Loire, Nantes, dan memungkinkan
Jules untuk setiap hari
melihat berbagal jenis kapal niaga dan militer berlalu-lalang di sungai tersebut. Lalu pada usia enam
tahun, Jules masuk sekolah asrama di Nantes. Gurunya waktu itu adalah Mademoiselle Sambin, yang
suaminya – seorang kapten
angkatan laut - dikabarkan
hilang 30 tahun sebelumnya. Sambin acapkali bercerita kepada murid-muridnya termasuk Jules, bahwa
suaminya suatu hari nanti pasti akan pulang, sama seperti kisah Robinson Crusoe (Daniel Defoe).
Kata-kata gurunya itulah yang
akhirnya mengilhami Jules kelak menulis The
Mysterious Island, Second Fatherland dan The School
for Robinsons.
Dua karya warisan Jules Verne yang paling fenomenal adalah Twenty
Thousand Leagues Under the Sea dan Journey to the Center of the Earth,
dua novel yang mengetengahkan tema "turun” atau “masuk" ke kedalaman bumi, entah itu di laut atau di darat.
Dalam 60.000
Mil di Bawah Laut (20.000 leagues kurang lebih setara dengan 60.000 mil), kita akan mengikuti petualangan Kapten Nemo dengan
kapal selam Nautilus yang kecanggihannya jauh sekali
melampaui zaman Jules Verne hidup saat itu. Jika kita
pernah membaca Around the World in Eighty Days, maka peran utama Philleas
Fogg akan kurang lebih sama dengan Nemo di Nautilus, yang juga mengelilingi
dunia melalul lautan. Bedanya
mungkin adalah peran yang diemban kedua tokoh tersebut, di mana Philleas Fogg
berkeliling dunia karena ikatan perjanjian dalam sebuah pertaruhan, sementara
Nemo lebih ke arah "playing God” seorang dengan latar belakang yang tidak jelas, namun memiliki kekuasaan (power) sedemikian
besar-melalui Nautilus untuk
melakukan apa pun yang dia inginkan, termasuk dalam hal kemanusiaan.